Jumat, 26 April 2013

KOLASE LIMBAH ALAM


     A.  FOTO KARYA

                        Nama                        :           Eky Dimas Yuliati
                        Kelas                        :           XII IPA 3
                        No                            :           10
    B.  IDENTITAS
·         Judul karya              : The Simple House
·         Jenis karya              : Kolase Limbah Alam
·         Media                     : Triplek, kardus, limbah alam, lem kayu, serbuk kayu
·         Ukuran                     : 60 x 40 cm
·         Tahun pembuatan    : 2013


    C.   KONSEP
            Setiap hari kita akan menemukan sampah  alam di sekitar kita. Seperti  kulit rambutan, daun rambutan, daun jambu, daun jeruk dan lain-lain. Sampah alam tersebut dapat digunakan untuk membuat suatu karya seni yaitu kolase limbah alam.
            Untuk membuat suatu kolase limbah alam kita perlu menyiapkan triplek, kardus atau sterofom, serbuk kayu, lem kayu, serta bahan utama beberapa sampah alam yang sudah dikeringkan. Langkah pertama, kita membuat desain obyek yang akan di buat di triplek dan kardus. Langkah kedua, potongi desain dari kardus atau sterofom dan tempelkan pada triplek. Langkah ketiga olesi triplek dengan lem kayu dan taburkan serbuk kayu di atasnya, dan angin-anginkan di tempat yang teduh hingga mengering. Selanjutnya, tempeli dengan sampah alam yang berupa dedaunan, kulit kayu atau kulit buah pada triplek. Potongan dari sampah alam yang akan ditempel dapat dibentuk puzzle, bentuk beraturan maupun tak beraturan sesuai dengan selera. Setelah semua gambar tertutupi dengan tempelan sampah alam, selanjutnya membuat garis-garis detail gambar. Dalam membuat kolase limbah alam perlu diperhatikan untuk pemilihan warna (coklat sedang, coklat tua, coklat muda) dan tekstur dari sampah yang kita gunakan. Karena itu merupakan hal yang sangat mempengaruhi nilai real kolase yang di buat.

     D.  PENGALAMAN MEMBUAT KARYA
            Dari awal Bapak guru menyampaikan bahwa untuk semester 2 akan diberi tugas membuat Kolase Limbah Alam, saya mencoba mengamati dan memperhatikan contoh karya – karya yang ada di sekolah. Setelah beberapa kali saya mengamati, saya berpikir bahwa ini akan terlalu sulit bagi saya. Karena saya bukan tipe orang yang telaten-telaten sekali. Tapi setelah saya melaksanakan apa yang ditugaskan Bapak guru untuk mulai mencari bahan-bahan untuk karya tersebut, ternyata tak sesulit yang saya pikirkan. Saya mulai mencari-cari limbah dapur yang ada di rumah saya. Di dapur saya menemukan, kulit kacang, kulit rambutan, kulit salak, kulit bawang, janggelan jagung dan bathok kelapa. Hehe… namanya juga seniman amatiran. Saking cerdasnya saya, membuat saya kelupaan bahwa seharusnya saya hanya mencari bahan-bahan yang akan saya pakai saja. Jadi tak membuang-buang waktu untuk mencari limbah yang sama sekali tidak saya perlukan. Oke,,, pencarian tak berhenti sampai di situ. Saat saya di ajak mbok (nenek) saya untuk mencari makanan kambing di rumah mbah yut saya. Saya juga ikut-ikutan memunguti daun-daun kering di kebun. Saya memunguti daun nangka, lamtoro, serta kulit pohon keres di depan rumah mbah yut saya. Karena kebetulan waktu itu mbah yut kakung saya sedang memotongi pohon keres. Saya pikir struktur kulitnya yang unik mampu memperindah karya yang akan saya buat. Sampai-sampai mbah yut putri ngomel-ngomel karena saya memunguti limbah alam yang tidak selayaknya saya punguti. Setelah saya jelaskan untuk apa saya memunguti itu semua, beliau malah tertawa… “Cah sakiki sekolah kok neko-neko ae” begitu katanya. Saya hanya tersenyum.
            Hari jumat tiba, bapak guru masuk kelas dan menerangkan apa saja yang dibutuhkan dan perlu di bawa untuk pertemuan yang akan datang. Diantaranya di suruh membawa triplek, lem kayu, limbah alam, kardus. Alhamdulillah di rumah saya masih punya lem kayu, sisa buat praktek fisika kelas XI serta kardus ,,, di rumah juga ada. Jadi tinggal cari limbah alam yang lain aja. Kalau triplek udah disediakan kelas. Selanjutnya mencari gambar yang akan dibuat untuk obyek kolase. Untungnya hari itu saya membawa laptop, jadi tak begitu ribet. Karena  ada anak yang udah menemukan gambar menurutnya bagus tapi ternyata terlalu rumit. Aku pun sampai maju 2x kalau gak salah. Alhamdulillah yang ke 2 di ACC oleh Bapak guru.
            Malangnya nasib saya, di pertemuan selanjutnya waktu pembagian triplek saya malah pergi pinjam gunting besar di kelas XI IPA 4. Al hasil saya tak dapat trilek baru dech.  Tapi, whateverlah. Banyak jalan menuju Roma.Setelah melihat saya dan lutfi tak dapat triplek baru teman-teman pada ribet untuk mencarikan triplek bekas di gudang. Melas banget ya. Tapi triplek itu gak begitu berpengaruh. Yang terpenting itu gimana caranya menyusun karya dengan sekreatif mungkin. Hanya itu yang ada di pikiran saya. Dan yang yang saya tidak menyangka sekali, waktu saya dan Lutfi membersihkan triplek bekas saya teman-teman sangat antusias untuk membantu saya dan Lutfi. Jadi terharu… (hehe). Ya, itulah indahnya kebersamaan.
Dalam membuat karya ini, dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan yang sangat tinggi. Dengan membuat karya ini saya belajar bersabar untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan harus berani mencoba-coba untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Bahkan dalam membuat pohon pada karya saya, saya harus bongkar pasang sebanyak 3 kali. Sungguh melelahkan, tapi setelah melihat hasil akhirnya, saya jadi bangga pada diri saya sendiri. Ternyata saya mampu membuat sendiri suatu karya yang awalnya, saya sendiri tidak yakin apakah saya mampu menyelesaikannya atau tidak. Tapi dengan modal “bonek” ternyata saya mampu menyelesaikannya dengan hasil yang maksimal.