Kamis, 13 Juli 2017

INSPIRASI DARI BATAS NEGERI

Mentari pagi terlalu indah untuk ku sambut hanya dengan senyuman Semilir angin terlalu syahdu untuk mengawal rasa rindu Daun yang berguguran seakan tak sabar untuk bertemu Kau… Mendekatlah, mari merenung sejenak Pandanglah wajah mereka Anak tak berdaya dibarisan terdepan terluar Indonesia Tengoklah…. Betapa fakir ilmu diri itu Berselimut asa Merangkai hidup penuh onak dan duri jangankan untuk berseragam sekolah berangkat sekolah saja sudah syukur jangankan untuk menuntut ilmu untuk bertahan hidup, diri pun tak sanggup jangankan untuk berprestasi bisa baca tulis itu sebuah kebanggaan jangankan untuk menyanyikan lagu kebangsaan membaca pun masih terbata-bata dadaku bergemuruh… nafasku tersengal tatkala kupandangi mereka menerjang derasnya hujan bahkan melawan arus sungai tuk sampai bangku sekolah sejauh apapun kaki menapak, itu menguatkan sejauh mata memandang, hanya tatapan penuh harap sejuta tanya tak terpecahkan mengapa terjadi? Sesekali terungkap cerita, hatiku merana Kemana kau, wahai pemuda? Saat bumi pertiwi merintih Dimana kau? Mana janjimu yang selalu kau ucapkan lewat lagu nasionalmu Sejauh mata memandang Harapan masih terbentang Secuil ilmu sejuta mimpi Mari beraksi tuk bangun negeri Salam MBMI

Senin, 26 September 2016

Teknologi Penghancur Peradaban? Yes or No

Seiring perkembangan teknologi dan informasi banyak sekali hal-hal baru yang bermunculan. Seperti sekarang kita ketahui bahwa gadget sudah menjadi hal yang biasa dipakai oleh anak-anak. Bahkan anak usia balita sudah dikenalkan dengan berbagai gadget berfitur canggih. Namun, dengan berbagai kemajuan yang tersebut kita pun harus membayar itu semua. quality time yang seharusnya bisa kita nikmati dengan anak-anak kita malah terbuang begitu saja. waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk bercengkerama, bersendau gurau dan memantau perkembangan anak-anak terlalui begitu saja tanpa ada bekas yang berarti. tidak hanya anak-anak, orang dewasapun juga begitu. Komunikasi langsung yang dulu menjadi hal yang sangat penting dan menjadi budaya kini mulai memudar. dalam suatu bus misalnya, dulu jika kita duduk dengan orang di dalam bus, maka kita akan menegurnya, bertanya mau kemana, dan berbagi pengalaman. namun sekarang, kita hanya diam saja dan lebih asyik bermain dengan gadget masing-masing. di saat kumpul dengan teman-teman pun kita lebih asyik menggunakan gadget daripada bertegur sapa menanyakan kabar. dekat tapi jauh :-) mari kita coba merenung sejenak berbagai kemudahan kini kita temukan, namun semua itu malah lebih sering membuat kita semakin malas dan tidak menghargai suatu proses. tantangan yang seharusnya menjadi pemicu semangat kita malah mematahkan niat kita. ditempa sedikit malah bermanja-manja. memang, tidak semua berdampak negatif tergantung bagaimana kita mengelola diri kita untuk pandai-pandai menggunakan teknologi secara efektif dan efisien. karena jika tidak, maka anda,saya bahkan kita semua yang akan hancur diperbudak oleh teknologi. peradaban yang sudah dibangun sedemikian rupa dengan susah payah akan hancur dengan adanya suatu mesin canggih. Sungguh, sebuah kemajuan itu harus kita beli itu semua tidak kita dapatkan dengan cuma-cuma. Jika saya diminta untuk memilih, maka saya akan memilih untuk kembali ke zaman dahulu. memang kurang maju dalam kecanggihan teknologi namun, lihatlah mereka mampu walaupun dengan peralatan yang sederhana, mereka pun tumbuh dengan beradap, menghargai sebuah proses dan perjuangan
sumber gambar : www.google.com Teknologi Penghancur Peradaban? Yes or No jawablah dalam hati saja. semoga bermanfaat. waallahu alam

Minggu, 07 Februari 2016

My Wedding

Semua orang berbahagia. Apalagi kami. Hari yang sangat aku tunggu- tunggu tiba. Hari pernikahan kami, iya aku dan mas heri akan menikah hari ini. Semua sudah siap, dekorasi, perias, among tamu dan keperluan yang lain. Hatiku berdegup kencang lebih kencang dari biasanya, ada kekhawatiran dalam hati jika nanti begini dan begitu bagaimana. Tapi aku berusaha optimis, mas heri pasti bisa melafalkan semuanya dengan baik. Lina sudah menemaniku dari pagi, dia sahabatku. "Mir, kamu cantik sekalii" katanya sambil tersenyum manis padaku. "Alhamdulillah, tapi aku agak kurang PD nih. Semoga semuanya lancar ya" balasku sambil tersenyum Ayah dan ibu juga sudah siap. Saatnya ijab qobul. Semua sudah berkumpul di tempat ijab. Mas heri dengan tegas dan lantang melafalkan semuanya. Alhamdulillah.... Aku segera dikeluarkan dari tempat persembunyianku. Aku tersenyum kepada semuanya. Mas heri berdiri tepat di depanku. Kucium tangannya yang dingin. Aku mengerti betapa gugupnya dia. "Selamat mas, kamu berhasil melalui semuanya" begitu gumamku di dalam hati. Mas heri membalasnya dengan mengecup keningku :-) setelah itu kami didudukkan di depan menyalami tamu tamu yang hadir. Semua orang yang datang menyambut dengan doa yang tiada hentinya dipanjatkan. Aku merasa sangat bahagia. Akhirnya, kami bisa bersatu dengan ikatan yang halal. Suasana agak sedikit lenggang. Datanglah seorang laki-laki berbadan tegap, tinggi besar bersama seorang ibu. Ibu itu lebih dulu berjabat tangan dengan mas heri dan....

Mawar Berduri

Indah... Merah merona menggairahkan Fisikmu mengangumkan Kamu memiliki berjuta cara untuk menakhlukan dunia Kemampuanmu bahkan banyak diperhitungkan Ku coba mendekatimu Karena aku ingin memilikimu Tapi di balik keindahanmu Ada duri duri yang tajam menghiasi tubuh molekmu Aku ingin menyentuhmu Tapi aku akan tersakiti Kau indah, tapi itu semua terlalu menyakitkan. Mungkin seperti itu apa yang sebenarnya terjadi Kau indah, tapi keindahan itu menjadi semu saat duri duri tajam itu hadir Kau.. Semu, ada tapi tak bisa ku gapai Aku sangat merindukan dan menginginkanmu Tapi memilihmu sama saja dengan menyakiti diriku sendiri Semua terlalu sulit untuk dijelaskan dengan panjang lebar Beginilah adanya merindukan tapi enggan untuk mengatakan Mencintai tapi enggan untuk menyatakan Kesemuanmu sungguh terlalu hai mawar berduriku

RESIGN

"Aku pikir aku mampu..." Begitu yang terngiang ngiang di kepala dan hatiku Ku coba melangkah dengan percaya diri menggebrak duniaku yang penuh dengan ketidakpastian dan sesak Aku hanya meyakini bahwa pasti ada jalan jika aku mau berusaha Tapi aku yang kalah, Aku yang lelah, Aku terbelenggu oleh beban mental dan fisik yang sungguh berat jika dirasa- rasakan Hujan mengalir begitu deras Saat ini mencoba untuk bersabar dan tersenyum kepada malaikat malaikat kecilku Tapi raga dan jiwa sudah tak kuat menahan beban Aku harus melempar senyum, mereka membutuhkanku Harus bersabar menghadapi polah lucunya ditengah kebisingan otakku yang sering memperdebatkan kehidupanku yang semakin sara Payah... Saat berangkat menuntut ilmu Walaupun sudah ku coba tutupi tapi nyatanya mata tak bisa bohong Fisikku mulai meronta, insomnia mulai meneror Suara mulai enggan untuk keluar Pulang larut, hati penuh sesak Berangkat pagi dengan menyisakan tanggung jawab di rumah Melewati jalanan ini lagi, Melihat kamu menangia setiap pagi ditengah tengah hatiku yang sedang semrawut. Aku kuatkan hatiku... Hingga akhirnya aku tumbang Pada akhirnya aku lebih memilih resign Mungkin ini jalan hidupku untuk kembali kepada-Mu Mungkin disana akan lebih baik

Rabu, 25 November 2015

Maaf… Maaf aku mencintaimu… Tapi aku tak sanggup untuk meraihmu Aku tak bisa bersamamu Aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan Maaf jika perasaanku ini memberatkanmu Karena aku meninggalkanmu tapi aku masih mengganggu kehidupanmu Aku mencintaimu Tapi cintaku tak bisa tersampaikan Orang lain yang bisa menyalurkan cintanya padamu Jujur aku menyesal tidak mengejarmu, tapi semua akan lebih menyakitkan Jika aku tetap mengejarmu dengan hati yang terbelenggu oleh kewajibanku Mungkin aku terlalu naif, Tapi sekali lagi maaf Biarkan aku mencintaimu tanpa harus mereka tahu Tanpa mereka harus mengerti Karena aku sudah tak sanggup untuk memperjuangkanmu lebih dari ini Memperjuangkanmu untuk menjadi kebanggan keluarga kita Maaf jika cinta ini menyakitimu Andai Tuhan mengijinkan aku untuk mencintaimu lebih dari ini Tapi sudahlah… Ini jalanku, dan jalanmu bukan jalanku Bersemangatlah untuk memperjuangkan hidup keluarga itu Kebanggaanku Aku yakin Kebangganku mampu Aku yakin Kebangganku lebih hebat Biar Tuhan yang turun tangan untuk memudahkan segala urusanmu Kebangganku Aku mencintaimu Kebanggaanku Tak peduli dengan apa yang kalian katakan tentang aku Aku akan selalu mencintaimu Kebangganku J

Lamaran Pertamaku

Hari itu menjadi hari yang sangat menegangkan di hidupku. Aku bangun sangat pagi hari itu. Mempersiapkan ini itu. Mandi, mememilih pakaian yang rapi dan nyaman untuk ku pakai. Mentari bersinar cerah hari itu, seakan ikut memberikan semangat dan energi untuk bergegas. Beberapa pesan singkat penyemangat bahkan tak meredakan ketegangan yang aku alami. Jari-jariku perlahan membeku. “Huft… Bismillah… jika ini memang jalanku maka Allah akan mempermudah semuanya dan jika memang ini bukan jalanku aku siap untuk mencari jalan lain” begitu pikirku. Hari itu hari jum’at, kita janjian pukul 10.00 WIB. Pukul 08.30 aku sudah berangkat. Selama diperjalanan menuju TKP hatiku berdegup lebih cepat dari biasanya, aku mencoba mengendalikan diriku. Akhirnya aku sampai di dekat kampus. Ku buka hp, baru pukul 09.00. Aku bingung harus kemana, akhirnya aku putuskan untuk ke kampus sambil menunggu waktu. Ku parkirkan supriX dan langsung bergegas menuju masjid. Di sana aku menghafalkan beberapa doa yang saking cerdasnya aku lupa bahkan ada yang aku belum hafal. Tik… tok… tik…. Tok…. Pukul 09.45 aku meninggalkan kampus. Aku tenteng map orange berisi CV dan kelengkapan lain. Aku masih ragu-ragu untuk langsung ke TKP karena anak-anak pasti belum pulang. Akhirnya aku putuskan untuk singgah di musola dekat TKP. Setelah pukul 10.00… aku bingung lagi, karena anak-anak belum keluar tapi aku janjian pukul 10.00 jika aku telat maka aku tidak on time. Sehingga aku langsung bergegas ke TKP. Disana masih ada wali murid yang menunggui anaknya karena belum keluar. Aku melangkah menuju ruang kepsek, terlihat 2 orang wanita sedang bercakap-cakap. Aku salam dan berjabat tangan, karena beliau masih ngobrol akhirnya aku mundur dan menunggu di luar. Tampak beberapa anak yang asyik bermain, mereka lucu-lucu dengan segala tingkahnya. Aku mengamati mereka satu per satu. “asyiknya hidupmu nak, tertawa lepas tanpa beban.” Aku berkata dalam hati sambil memandangi mereka. Tak berapa lama ada anak laki-laki kecil duduk di sebelahku. “hai… namamu siapa?” tanyaku “alby” begitu jawabnya “mas alby, kelas TK atau PAUD ya?” “TK” “TK A atau TK B?” tanyaku lagi “TK A” percakapan terhenti karena seseorang memanggilku. Aku segera masuk ke ruangan beliau. Di situ aku menyerahkan mamp orange, ya LAMARAN PERTAMAKU” kemudian beliau langsung mewawancarai aku. Bertanya ini itu kesana kemari. Beliau juga bertanya padaku “Bisa mengaji?” “bisa” jawabku singkat Akhirnya beliau mengambil Al-Qur’an di meja lalu memberikannya padaku sambil berkata. “tolong baca ayat ini, jangan berhenti sebelum saya minta berhenti” “iya” Aku langsung membaca ayat demi ayat hingga setengah halaman beliau meminta aku untuk berhenti. Selanjutnya ada tes tulis. Aku disodori selembar kertas yang berisi kalau tak salah ingat 5 pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang sangat aku ingat dan tidak akan pernah aku lupa adalah intinya begini “anda mau digaji berapa?” Ya Allah… Gaji. Begitu pikirku. Beliau mau menerima aku di situ saja… aku sudah bersyukur sekali. Karena yang terpenting adalah pengalaman real yang aku dapatkan. Gaji itu hanya bonus saja. Jadi terserah beliau, begitu pikirku. Aku bukan lulusan S1, aku hanya lulusan SMA yang tak punya pengalaman dalam bidang ini. Akhirnya jariku segera menari-nari di atas kertas. Hingga aku selesai dan beliau membaca hasil tesku dengan tersenyum. Aku bingung beliau tersenyum membaca jawaban konyolku atau karena apa. Sesaat beliau diam. Situasi jadi semakin kikuk… Beliau membuka percakapan dan akhirnya…. Beliau berkata. “Iya… jadi ibu diterima di sini, semoga betah dengan lingkungan sini. Besok bisa masuk untuk observasi” “Alhamdulillah…. Terima kasih ya bu.” Beliau memberi aku kesempatan untuk bertanya-tanya dan akupun memanfaatkan kesempatan itu. Hingga aku merasa cukup aku undur diri. Segera aku dan supri meninggalkan TKP dan bergegas ke rumah. Selama perjalanan senyum itu tak henti-hentinya menghiasi wajahku. Alhamdulillah… bismillah… Ini jalanku…. Lamaran pertamaku diterima