Senin, 26 September 2016

Teknologi Penghancur Peradaban? Yes or No

Seiring perkembangan teknologi dan informasi banyak sekali hal-hal baru yang bermunculan. Seperti sekarang kita ketahui bahwa gadget sudah menjadi hal yang biasa dipakai oleh anak-anak. Bahkan anak usia balita sudah dikenalkan dengan berbagai gadget berfitur canggih. Namun, dengan berbagai kemajuan yang tersebut kita pun harus membayar itu semua. quality time yang seharusnya bisa kita nikmati dengan anak-anak kita malah terbuang begitu saja. waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk bercengkerama, bersendau gurau dan memantau perkembangan anak-anak terlalui begitu saja tanpa ada bekas yang berarti. tidak hanya anak-anak, orang dewasapun juga begitu. Komunikasi langsung yang dulu menjadi hal yang sangat penting dan menjadi budaya kini mulai memudar. dalam suatu bus misalnya, dulu jika kita duduk dengan orang di dalam bus, maka kita akan menegurnya, bertanya mau kemana, dan berbagi pengalaman. namun sekarang, kita hanya diam saja dan lebih asyik bermain dengan gadget masing-masing. di saat kumpul dengan teman-teman pun kita lebih asyik menggunakan gadget daripada bertegur sapa menanyakan kabar. dekat tapi jauh :-) mari kita coba merenung sejenak berbagai kemudahan kini kita temukan, namun semua itu malah lebih sering membuat kita semakin malas dan tidak menghargai suatu proses. tantangan yang seharusnya menjadi pemicu semangat kita malah mematahkan niat kita. ditempa sedikit malah bermanja-manja. memang, tidak semua berdampak negatif tergantung bagaimana kita mengelola diri kita untuk pandai-pandai menggunakan teknologi secara efektif dan efisien. karena jika tidak, maka anda,saya bahkan kita semua yang akan hancur diperbudak oleh teknologi. peradaban yang sudah dibangun sedemikian rupa dengan susah payah akan hancur dengan adanya suatu mesin canggih. Sungguh, sebuah kemajuan itu harus kita beli itu semua tidak kita dapatkan dengan cuma-cuma. Jika saya diminta untuk memilih, maka saya akan memilih untuk kembali ke zaman dahulu. memang kurang maju dalam kecanggihan teknologi namun, lihatlah mereka mampu walaupun dengan peralatan yang sederhana, mereka pun tumbuh dengan beradap, menghargai sebuah proses dan perjuangan
sumber gambar : www.google.com Teknologi Penghancur Peradaban? Yes or No jawablah dalam hati saja. semoga bermanfaat. waallahu alam

Minggu, 07 Februari 2016

My Wedding

Semua orang berbahagia. Apalagi kami. Hari yang sangat aku tunggu- tunggu tiba. Hari pernikahan kami, iya aku dan mas heri akan menikah hari ini. Semua sudah siap, dekorasi, perias, among tamu dan keperluan yang lain. Hatiku berdegup kencang lebih kencang dari biasanya, ada kekhawatiran dalam hati jika nanti begini dan begitu bagaimana. Tapi aku berusaha optimis, mas heri pasti bisa melafalkan semuanya dengan baik. Lina sudah menemaniku dari pagi, dia sahabatku. "Mir, kamu cantik sekalii" katanya sambil tersenyum manis padaku. "Alhamdulillah, tapi aku agak kurang PD nih. Semoga semuanya lancar ya" balasku sambil tersenyum Ayah dan ibu juga sudah siap. Saatnya ijab qobul. Semua sudah berkumpul di tempat ijab. Mas heri dengan tegas dan lantang melafalkan semuanya. Alhamdulillah.... Aku segera dikeluarkan dari tempat persembunyianku. Aku tersenyum kepada semuanya. Mas heri berdiri tepat di depanku. Kucium tangannya yang dingin. Aku mengerti betapa gugupnya dia. "Selamat mas, kamu berhasil melalui semuanya" begitu gumamku di dalam hati. Mas heri membalasnya dengan mengecup keningku :-) setelah itu kami didudukkan di depan menyalami tamu tamu yang hadir. Semua orang yang datang menyambut dengan doa yang tiada hentinya dipanjatkan. Aku merasa sangat bahagia. Akhirnya, kami bisa bersatu dengan ikatan yang halal. Suasana agak sedikit lenggang. Datanglah seorang laki-laki berbadan tegap, tinggi besar bersama seorang ibu. Ibu itu lebih dulu berjabat tangan dengan mas heri dan....

Mawar Berduri

Indah... Merah merona menggairahkan Fisikmu mengangumkan Kamu memiliki berjuta cara untuk menakhlukan dunia Kemampuanmu bahkan banyak diperhitungkan Ku coba mendekatimu Karena aku ingin memilikimu Tapi di balik keindahanmu Ada duri duri yang tajam menghiasi tubuh molekmu Aku ingin menyentuhmu Tapi aku akan tersakiti Kau indah, tapi itu semua terlalu menyakitkan. Mungkin seperti itu apa yang sebenarnya terjadi Kau indah, tapi keindahan itu menjadi semu saat duri duri tajam itu hadir Kau.. Semu, ada tapi tak bisa ku gapai Aku sangat merindukan dan menginginkanmu Tapi memilihmu sama saja dengan menyakiti diriku sendiri Semua terlalu sulit untuk dijelaskan dengan panjang lebar Beginilah adanya merindukan tapi enggan untuk mengatakan Mencintai tapi enggan untuk menyatakan Kesemuanmu sungguh terlalu hai mawar berduriku

RESIGN

"Aku pikir aku mampu..." Begitu yang terngiang ngiang di kepala dan hatiku Ku coba melangkah dengan percaya diri menggebrak duniaku yang penuh dengan ketidakpastian dan sesak Aku hanya meyakini bahwa pasti ada jalan jika aku mau berusaha Tapi aku yang kalah, Aku yang lelah, Aku terbelenggu oleh beban mental dan fisik yang sungguh berat jika dirasa- rasakan Hujan mengalir begitu deras Saat ini mencoba untuk bersabar dan tersenyum kepada malaikat malaikat kecilku Tapi raga dan jiwa sudah tak kuat menahan beban Aku harus melempar senyum, mereka membutuhkanku Harus bersabar menghadapi polah lucunya ditengah kebisingan otakku yang sering memperdebatkan kehidupanku yang semakin sara Payah... Saat berangkat menuntut ilmu Walaupun sudah ku coba tutupi tapi nyatanya mata tak bisa bohong Fisikku mulai meronta, insomnia mulai meneror Suara mulai enggan untuk keluar Pulang larut, hati penuh sesak Berangkat pagi dengan menyisakan tanggung jawab di rumah Melewati jalanan ini lagi, Melihat kamu menangia setiap pagi ditengah tengah hatiku yang sedang semrawut. Aku kuatkan hatiku... Hingga akhirnya aku tumbang Pada akhirnya aku lebih memilih resign Mungkin ini jalan hidupku untuk kembali kepada-Mu Mungkin disana akan lebih baik