Minggu, 07 Juli 2013

Derai Air ata yang Tak Pernah Berhenti



Pada suatu desa dikisahkan ada sebuah keluarga yang terlihat hidup berkecukupan. Keluarga tersebut terdiri atas ayah,ibu dan dua orang gadis putrinya. Anak pertama mereka telah lulus SMA dan memutuskan untuk pergi ke kota. Ia pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang layak dan ia berfikir dengan bekerja ia mampu meringankan beban kedua orang tuanya.


Anak pertama mereka pun berangkat. Kini tinggallah adik sulungnya yang berada di rumah. Anak kedua sekaligus anak terakhir ini masih tergolong pelajar SMA, sehingga ia masih harus menempuh satu tahun lagi untuk bisa bekerja. Walaupun sebenarnya dalam hati ia ingin sekali seperti kakaknya. Tetapi ia sadar ia masih harus belajar dan terus belajar untuk menggapai cita-citanya.


Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, ia mendapatkan sebuah info pekerjaan yang tak jauh dari rumahnya. Awalnya ia pun bimbang menentukan pilihan, untuk mencobanya atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk mencoba melamar pekerjaan tersebut, Alhamdulilah ia diterima.


Hari-hari pun berganti, tak terasa sudah tiga bulan ia menjalani pekerjaan yang sudah ia tekuni. Tetapi dalam ketukanannya terkadang ia merasa iri melihat teman-temannya yang bisa tertawa dengan riang, tersenyum, bermain dan bahagia. Tetapi ia sadar, sekarang ia tak bisa melakukan hal tersebut seperti dulu karena ia harus disibukkan dengan pekerjaan yanng ia tekuni.


Dalam hati yang paling dalam ia ingin sekali kembali melalui hari-harinya seperti yang dulu. Dalam otaknya dia juga berfikir uang bisa di cari kapan pun, tapi waktu tak pernah bisa di putar.Tapi sejujurnya ia bimbang menentukan pilihan. Ia bngung bagaiamana dengan biaya sekolahnya? Ia tahu keluarganya berkecukupan tapi ia malah tersiksa, karena bathin ia tersiksa di rumah, ia selalu melihat kedua orangtuanya berantem setiap hari, terutama masalah uang. Inilah salah satu penyebab ia ingin sekali bekerja. Tapi jauh dari itu bathinnyalah yang tak kuat menanggungnya.


Tapi apalah daya semua takdir sang Kuasa. Hanya kesabaran yang mampu ia berikan.

Bersambung ke. . . . . .


Seperti hari biasanya malam itu ia pulang dari pekerjaannya. Dengan semangat yang menggebu ia pulang dengan tujuan segera mengerjakan tugas sekolahnya. Hari itu ia memang kerja lembur hingga ia tidak ada di rumah seharian penuh. Hingga ia segera ia pulang. Tapi apa yang ia dapat sesampainya di rumah . . . .

DERAI AIR MATAnya pun TERJATUH


Menatap rumahnya yang bagaikan kapal pecah. Rumah yang tak pernah dibersihkan jika ia tak ada di rumah. Rasa lapar yang telah ia tahan sejak sore. Tapi apa???? Ia hanya melihat makanan yang dia rasa tak ingin ia makan. Ia pun memutuskan untuk memasak dengan kayu bakar dengan di genangi air mata. Air matanya pun terus terjatuh meratapi hidupnya sendiri.



Hidup berkecukupan bukan berarti bahagia.  Itu yang selalu ada di pikirannya. Mending ia hidup sederhana namun dia bahagia. Namun ia sadar inilah takdir. Dengan sabar dan tawakal ia tetap menjalaninya.


 Hingga akhirnya ia terlelap tidur. . . ..



Tak ada yang pernah tahu kapan kebahagian kan menghampirinya


hanya doa dan harapan yang mampu ia berikan.......




by:cuzzhy