Rabu, 25 November 2015

Lamaran Pertamaku

Hari itu menjadi hari yang sangat menegangkan di hidupku. Aku bangun sangat pagi hari itu. Mempersiapkan ini itu. Mandi, mememilih pakaian yang rapi dan nyaman untuk ku pakai. Mentari bersinar cerah hari itu, seakan ikut memberikan semangat dan energi untuk bergegas. Beberapa pesan singkat penyemangat bahkan tak meredakan ketegangan yang aku alami. Jari-jariku perlahan membeku. “Huft… Bismillah… jika ini memang jalanku maka Allah akan mempermudah semuanya dan jika memang ini bukan jalanku aku siap untuk mencari jalan lain” begitu pikirku. Hari itu hari jum’at, kita janjian pukul 10.00 WIB. Pukul 08.30 aku sudah berangkat. Selama diperjalanan menuju TKP hatiku berdegup lebih cepat dari biasanya, aku mencoba mengendalikan diriku. Akhirnya aku sampai di dekat kampus. Ku buka hp, baru pukul 09.00. Aku bingung harus kemana, akhirnya aku putuskan untuk ke kampus sambil menunggu waktu. Ku parkirkan supriX dan langsung bergegas menuju masjid. Di sana aku menghafalkan beberapa doa yang saking cerdasnya aku lupa bahkan ada yang aku belum hafal. Tik… tok… tik…. Tok…. Pukul 09.45 aku meninggalkan kampus. Aku tenteng map orange berisi CV dan kelengkapan lain. Aku masih ragu-ragu untuk langsung ke TKP karena anak-anak pasti belum pulang. Akhirnya aku putuskan untuk singgah di musola dekat TKP. Setelah pukul 10.00… aku bingung lagi, karena anak-anak belum keluar tapi aku janjian pukul 10.00 jika aku telat maka aku tidak on time. Sehingga aku langsung bergegas ke TKP. Disana masih ada wali murid yang menunggui anaknya karena belum keluar. Aku melangkah menuju ruang kepsek, terlihat 2 orang wanita sedang bercakap-cakap. Aku salam dan berjabat tangan, karena beliau masih ngobrol akhirnya aku mundur dan menunggu di luar. Tampak beberapa anak yang asyik bermain, mereka lucu-lucu dengan segala tingkahnya. Aku mengamati mereka satu per satu. “asyiknya hidupmu nak, tertawa lepas tanpa beban.” Aku berkata dalam hati sambil memandangi mereka. Tak berapa lama ada anak laki-laki kecil duduk di sebelahku. “hai… namamu siapa?” tanyaku “alby” begitu jawabnya “mas alby, kelas TK atau PAUD ya?” “TK” “TK A atau TK B?” tanyaku lagi “TK A” percakapan terhenti karena seseorang memanggilku. Aku segera masuk ke ruangan beliau. Di situ aku menyerahkan mamp orange, ya LAMARAN PERTAMAKU” kemudian beliau langsung mewawancarai aku. Bertanya ini itu kesana kemari. Beliau juga bertanya padaku “Bisa mengaji?” “bisa” jawabku singkat Akhirnya beliau mengambil Al-Qur’an di meja lalu memberikannya padaku sambil berkata. “tolong baca ayat ini, jangan berhenti sebelum saya minta berhenti” “iya” Aku langsung membaca ayat demi ayat hingga setengah halaman beliau meminta aku untuk berhenti. Selanjutnya ada tes tulis. Aku disodori selembar kertas yang berisi kalau tak salah ingat 5 pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang sangat aku ingat dan tidak akan pernah aku lupa adalah intinya begini “anda mau digaji berapa?” Ya Allah… Gaji. Begitu pikirku. Beliau mau menerima aku di situ saja… aku sudah bersyukur sekali. Karena yang terpenting adalah pengalaman real yang aku dapatkan. Gaji itu hanya bonus saja. Jadi terserah beliau, begitu pikirku. Aku bukan lulusan S1, aku hanya lulusan SMA yang tak punya pengalaman dalam bidang ini. Akhirnya jariku segera menari-nari di atas kertas. Hingga aku selesai dan beliau membaca hasil tesku dengan tersenyum. Aku bingung beliau tersenyum membaca jawaban konyolku atau karena apa. Sesaat beliau diam. Situasi jadi semakin kikuk… Beliau membuka percakapan dan akhirnya…. Beliau berkata. “Iya… jadi ibu diterima di sini, semoga betah dengan lingkungan sini. Besok bisa masuk untuk observasi” “Alhamdulillah…. Terima kasih ya bu.” Beliau memberi aku kesempatan untuk bertanya-tanya dan akupun memanfaatkan kesempatan itu. Hingga aku merasa cukup aku undur diri. Segera aku dan supri meninggalkan TKP dan bergegas ke rumah. Selama perjalanan senyum itu tak henti-hentinya menghiasi wajahku. Alhamdulillah… bismillah… Ini jalanku…. Lamaran pertamaku diterima