Langsung ke konten utama

Postingan

kau yang selalu aku semogakan

kau yang selalu aku semogakan. mentari pagi terlalu indah untuk ku sambut hanya dengan senyuman. semilir angin terlalu syahdu untuk mengawal rasa rindu. daun yang berguguran seakan tak sabar untuk menahan rindu. padamu... selalu aku semogakan dalam setiap langkah. selalu aku semogakan dalam setiap doa. selalu aku semogakan dalam sepertiga malam. selalu aku semogakan dalam balutan doa hingga air mata tak terbendung. langkah kaki terlalu cepat dari kata hati. langkah jiwa terlalu bersemangat untuk menyambut janji. selalu kusemogakan kehadiranmu yang selalu aku tunggu. dalam balutan doa, asa dan air mata. aku semogakan agar kita mampu bersama-sama hingga akhir waktu. aku semogakan agar selalu bisa memelukmu. menatap mata indahmu. aku semogakan agar aku selalu mendampingimu sampai akhir hayatku. aku semogakan duhai penyemangat jiwaku. aku semogakan Tuhan mempersatukan jiwa... jiwaku dan jiwamu saat raga teronggok tak berdaya. duhai, penyemangat hidupku.

MARI BERPUISI TENTANG ENGKAU

Tahun ini, kau bawa aku lari. berlari ke jalanan sunyi yang baru kujumpai. bahkan aku harus berkenalan dengan dedaunan, rumput, dan udara. sang surya pun nampak berbeda. hingga senja usai, aku masih termangu. menatap kemilau bintang dan rembulan. hingga suatu massa. kau seret aku tuk berlari tanpa kenal ruang dan waktu. bersembunyi dalam gegap gempita kehidupan. tenggelam dalam lautan pemikiran nakal untuk maju. namun, yang kutemui hanya sendu. karena kau masih saja sabar menunggu. menunggu sang waktu menutup waktumu. jika kau masih sedia menunggu. tunggulah. apa salahnya menjemput bola. apa salahnya kita mengembangkan diri. karena bakti pada negeri tak kan pernah mati. daun daun kian berguguran. buah punya biji. biji tumbuh berkembang. apa iya sampai kini kau masih ingin disini? engkau... sini adek bisiki "ya... mau ya...." Engkau... sini berbenah. karena semangatku tak pernah patah. meski kau paksa aku tuk menyerah.

INSPIRASI DARI BATAS NEGERI

Mentari pagi terlalu indah untuk ku sambut hanya dengan senyuman Semilir angin terlalu syahdu untuk mengawal rasa rindu Daun yang berguguran seakan tak sabar untuk bertemu Kau… Mendekatlah, mari merenung sejenak Pandanglah wajah mereka Anak tak berdaya dibarisan terdepan terluar Indonesia Tengoklah…. Betapa fakir ilmu diri itu Berselimut asa Merangkai hidup penuh onak dan duri jangankan untuk berseragam sekolah berangkat sekolah saja sudah syukur jangankan untuk menuntut ilmu untuk bertahan hidup, diri pun tak sanggup jangankan untuk berprestasi bisa baca tulis itu sebuah kebanggaan jangankan untuk menyanyikan lagu kebangsaan membaca pun masih terbata-bata dadaku bergemuruh… nafasku tersengal tatkala kupandangi mereka menerjang derasnya hujan bahkan melawan arus sungai tuk sampai bangku sekolah sejauh apapun kaki menapak, itu menguatkan sejauh mata memandang, hanya tatapan penuh harap sejuta tanya tak terpecahkan mengapa terjadi? Sesekali terungkap cerita, hatiku merana ...

Teknologi Penghancur Peradaban? Yes or No

Seiring perkembangan teknologi dan informasi banyak sekali hal-hal baru yang bermunculan. Seperti sekarang kita ketahui bahwa gadget sudah menjadi hal yang biasa dipakai oleh anak-anak. Bahkan anak usia balita sudah dikenalkan dengan berbagai gadget berfitur canggih. Namun, dengan berbagai kemajuan yang tersebut kita pun harus membayar itu semua. quality time yang seharusnya bisa kita nikmati dengan anak-anak kita malah terbuang begitu saja. waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk bercengkerama, bersendau gurau dan memantau perkembangan anak-anak terlalui begitu saja tanpa ada bekas yang berarti. tidak hanya anak-anak, orang dewasapun juga begitu. Komunikasi langsung yang dulu menjadi hal yang sangat penting dan menjadi budaya kini mulai memudar. dalam suatu bus misalnya, dulu jika kita duduk dengan orang di dalam bus, maka kita akan menegurnya, bertanya mau kemana, dan berbagi pengalaman. namun sekarang, kita hanya diam saja dan lebih asyik bermain dengan gadget masing-masi...

My Wedding

Semua orang berbahagia. Apalagi kami. Hari yang sangat aku tunggu- tunggu tiba. Hari pernikahan kami, iya aku dan mas heri akan menikah hari ini. Semua sudah siap, dekorasi, perias, among tamu dan keperluan yang lain. Hatiku berdegup kencang lebih kencang dari biasanya, ada kekhawatiran dalam hati jika nanti begini dan begitu bagaimana. Tapi aku berusaha optimis, mas heri pasti bisa melafalkan semuanya dengan baik. Lina sudah menemaniku dari pagi, dia sahabatku. "Mir, kamu cantik sekalii" katanya sambil tersenyum manis padaku. "Alhamdulillah, tapi aku agak kurang PD nih. Semoga semuanya lancar ya" balasku sambil tersenyum Ayah dan ibu juga sudah siap. Saatnya ijab qobul. Semua sudah berkumpul di tempat ijab. Mas heri dengan tegas dan lantang melafalkan semuanya. Alhamdulillah.... Aku segera dikeluarkan dari tempat persembunyianku. Aku tersenyum kepada semuanya. Mas heri berdiri tepat di depanku. Kucium tangannya yang dingin. Aku mengerti betapa gugupnya dia. ...

Mawar Berduri

Indah... Merah merona menggairahkan Fisikmu mengangumkan Kamu memiliki berjuta cara untuk menakhlukan dunia Kemampuanmu bahkan banyak diperhitungkan Ku coba mendekatimu Karena aku ingin memilikimu Tapi di balik keindahanmu Ada duri duri yang tajam menghiasi tubuh molekmu Aku ingin menyentuhmu Tapi aku akan tersakiti Kau indah, tapi itu semua terlalu menyakitkan. Mungkin seperti itu apa yang sebenarnya terjadi Kau indah, tapi keindahan itu menjadi semu saat duri duri tajam itu hadir Kau.. Semu, ada tapi tak bisa ku gapai Aku sangat merindukan dan menginginkanmu Tapi memilihmu sama saja dengan menyakiti diriku sendiri Semua terlalu sulit untuk dijelaskan dengan panjang lebar Beginilah adanya merindukan tapi enggan untuk mengatakan Mencintai tapi enggan untuk menyatakan Kesemuanmu sungguh terlalu hai mawar berduriku

RESIGN

"Aku pikir aku mampu..." Begitu yang terngiang ngiang di kepala dan hatiku Ku coba melangkah dengan percaya diri menggebrak duniaku yang penuh dengan ketidakpastian dan sesak Aku hanya meyakini bahwa pasti ada jalan jika aku mau berusaha Tapi aku yang kalah, Aku yang lelah, Aku terbelenggu oleh beban mental dan fisik yang sungguh berat jika dirasa- rasakan Hujan mengalir begitu deras Saat ini mencoba untuk bersabar dan tersenyum kepada malaikat malaikat kecilku Tapi raga dan jiwa sudah tak kuat menahan beban Aku harus melempar senyum, mereka membutuhkanku Harus bersabar menghadapi polah lucunya ditengah kebisingan otakku yang sering memperdebatkan kehidupanku yang semakin sara Payah... Saat berangkat menuntut ilmu Walaupun sudah ku coba tutupi tapi nyatanya mata tak bisa bohong Fisikku mulai meronta, insomnia mulai meneror Suara mulai enggan untuk keluar Pulang larut, hati penuh sesak Berangkat pagi dengan menyisakan tanggung jawab di rumah Melewati jalanan ini lagi, Melihat...